JEJAK LUKA

 

Aku menunggunya di sudut cafe sambil minum secangkir kopi hitam, dia gadis cantik yang baru saja lulus es em a yang kukenal lewat facebook. Padanya segala petualanganku akan aku akhiri, mencintainya dengan sepenuh hati dan menikahinya, meski usia terpaut jauh, sekitar dua puluh tahun tapi kuyakin dia mau membuka hati. Kalau tidak, untuk apa pula dia ngajak bertemu.

Lalu dia datang, membuatku tertegun dan hati bergetar. Lukisan tentang bidadari ada padanya, hingga setua ini aku dibuatnya seperti anak muda yang baru jatuh cinta.

“Om, sudah lama nunggu ya, sorry Keyla tadi mampir dulu ke rumah temen.” Ujarnya sambil duduk.

Aku tertegun sejenak, terbius pesonanya, “Oh ya, nggak apa-apa kok! Om baru datang juga, ini kopi saja masih panas!” ujarku sedikit grogi.

“Keyla sama Om merasa pernah kenal gitu loh! Merasa nyaman, kadang rindu, entah kenapa ya? Perasaan seperti ini belum pernah Keyla rasakan sama orang lain!”

Aku dibuatnya melambung, detak jantung makin dibuat nggak karuan.

“Oh ya, Om beneran masih jomblo? Padahal Om kan ganteng, nggak bisa move on ya Om?”

“Nggak, belum ketemu jodohnya saja.”

“Kirain kayak Mamanya Keyla, dia itu nggak pernah bisa move on. Semenjak Ayah meninggal waktu Keyla masih dalam kandungan, Mama nggak pernah mau jatuh cinta lagi, mungkin karena itulah Keyla merasa dekat sama Om!”

“Ya, mungkin. Memangnya Keyla nggak pernah minta Mamanya menikah lagi?”

“Seringlah Om! Tapi selalu gagal, sampe bosen!”

Aku terdiam sejenak sambil nyeruput kopi, sementara Keyla meminta dibuatkan milkshake pada seorang pelayan yang dipanggilnya. Lalu tiba-tiba aku dikagetkan oleh seseorang yang datang, seseorang yang menyeretku pada masa lalu. Aku pun langsung menunduk agar dia tak melihatku, tapi sial! Dia melangkah kearahku.

“Keyla ada apa nyuruh Mama ke sini!” ujarnya, membuat jantungku merasa berhenti seketika.

“Oh Mama, cepat amat datangnya! Ini ada yang mau Keyla kenalin sama Mama, siapa tahu Mama suka, kalau Keyla sih bahagia banget kalau Om Danur menjadi Papa Keyla!”

“Danur Jatmika!” terdengar suara dengan nada bergetar.

Aku perlahan mengangkat muka, “Wilona.” Ucapku perlahan.

“Loh sudah pada kenal rupanya!” ujar Keyla dengan riang.

Wilona langsung mencengkram lengan Keyla, “Keyla ayo kita pergi!” ungkapnya sambil menarik lengan Keyla.

Keyla berusaha bertahan. “Ada apa sih Mah! Jelasin dulu!”

“Keylaaa!”

“Nggak mau, jelasin duluu!”

Wilona terdiam, dia menghela napas beberapa kali. Sementara aku hanya bisa mematung, seperti terdakwa yang sedang menuggu vonis dibacakan hakim.

“Keyla! Ayahmu sebenarnya belum mati, dia hanya lari dari tanggung jawab atas perbuatannya menghamili Mama, dia ada di hadapammu. Seorang laki-laki pengecut!” ungkap Wilona penuh amarah dan sorot mata tajam.

“Ayah!” Keyla memandangku.

Wilona tak kuasa menahan tangisnya, lalu bergegas pergi dengan setengah berlari.

“Ayah, kejar Mama Ayah, kejar Ayah demi Keyla!” ujar Keyla disela tangisnya.

Aku hanya terdiam dengan hati yang remuk dan merasa sebagai pecundang.

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah memberikan komentar

Diberdayakan oleh Blogger.